September ’94

Hai, apa kabar?
tiba-tiba aku ingin menulis tentangmu
sejak beberapa bunga tidur datang menghampiri tanpa ada undangan dariku.
sejak percakapan antara aku dan teman lelaki ku yang awalnya mencari cara supaya aku bisa sembuh.
ternyata atau seharusnya atau mungkin penyembuhnya adalah kamu.

aku bercerita pada teman lelaki ku tentang bagaimana aku ingin sembuh
lalu cerita itu berhujung pada mu, karena ditengah-tengah nya (ternyata) kamu hadir ikut dalam proses sembuh ku.
teman lelaki ku berkata, mengapa kita (aku dan kamu) tidak berjalan terus?
karena menurutnya, salah satu cara aku dapat sembuh adalah menemukan orang baru.
dan (ternyata) orang baru itu adalah kamu, mungkin..

aku akan bercerita tentang bagaimana pertama kali aku mengenalmu.
jika aku hitung mundur dengan apa yang telah terjadi pada kita, ternyata hampir semuanya indah.
perihal pertama kali kamu berani menjemputku, padahal kita sama sekali saling tidak tahu menahu,
perihal kamu selalu memberiku kabar tanpa ku minta,
perihal kamu selalu menyempatkan mencari koneksi internet untuk dapat mengobrol dengan ku melalui teks,
perihal kamu yang cukup rajin menelepon ku setiap hari,
perihal kamu yang hampir setiap hari menyanyikan ku lagu-lagu dengan dentingan mu,
(bagaimana bisa kamu mengerti aku sangat suka disenandungkan dengan gitar?)
perihal kamu yang pernah turut khawatir akan aku,
perihal rindu-rindu kecil yang tidak dapat terlihat oleh siapapun,
dan masih banyak lagi hal-hal yang aku sukai darimu dengan seiring berjalannya waktu.
(harusnya kamu tau!)

“seseorang yang baru patah hati, hatinya rentan untuk dimasuki”
memang benar.
sejak kamu berani merelakan beberapa waktu mu untuk ku.
aku ingat pada malam kamu mengantarku pulang, kamu berani merelakan menonton band favoritmu bersama teman-teman mu.
“tapi kamu mau nonton Silampukau, gapapa aku temenin” kata ku yang masih kekeuh supaya kamu bisa menonton.
lalu tidak ku sangka kamu mengatakan dengan lantang, “tapi aku juga pengen nganterin kamu pulang”
(sebetulnya aku tersenyum pada saat itu, mengertilah!)
hal-hal yang kamu lakukan pada ku memang sangat klasik, namun kamu berhasil membuat aku bahagia.
kamu berhasil membuat aku lupa dengan segala luka ku, saat dengan mu aku bisa sangat bahagia.
(aku berharap kamu pun hehe)
tenang.. kamu bukan pelarian untuk ku, dan aku juga tidak bermaksud melakukannya.

lalu kemudian hati ku kembali patah setelah mengetahui mu masih menunggu seseorang dari masa lalu mu.
bodohnya, harusnya aku tau dua orang yang selalu kamu bicarakan melalui telepon itu adalah aku dan dia,
supaya aku tidak jatuh terlalu jauh pada mu.
padahal aku seringkali berkata pada mu,
“kamu mau dicintai oleh seseorang yang masih mencintai masa lalunya?”
“jangan pernah berani membuka hati yang baru jika belum sepenuhnya melupakan yang lama”
“posisikan dirimu ketika orang baru tersebut tau jika kamu masih menunggu masa lalu mu”
dan masih banyak lagi.

harusnya kamu benar-benar mendengarku, supaya kamu dapat berpikir ulang untuk mendekati ku.
(atau aku adalah bagian dari cara mu mempermainkan wanita?)
apakah kamu tau setelah aku mengetahui hal itu, hati ku cukup terluka?
ternyata kamu tidak jauh berbeda dengan laki-laki diluar sana.
apakah kamu tau aku melakukan langkah mundur yang cukup berat?
aku tidak ingin memunafikkan diriku bahwa aku juga (mungkin) ada kesempatan untuk menyayangi mu suatu saat nanti.
tapi sebelum itu terjadi, ternyata kamu sudah menyadarkan aku dahulu
mungkin Tuhan tidak ingin aku terluka kembali.
padahal.. dengan kamu, aku bisa menemukan bahagia ku kembali. sayangnya aku dan kamu tidak terjadi.

terimakasih kamu masih mengingatku untuk mengucapkan “minal aidzin wal faidzin”
ketahuilah, menerima kabar darimu seperti itu membuatku gugup dan sedikit gila
ya, karena aku tersenyum sepanjang waktu.
terimakasih juga telah menitipkan salam untuk ku.
ketahuilah juga, aku tersenyum saat mendengarnya.
selalu ada harapan untuk membuka kembali pintu ku untuk mu, tapi mungkin juga tidak.
mungkin kamu suda tidak ada hasrat untuk bertemu dengan ku lagi. apalah aku ini..

apa kabar kamu saat ini? semoga hijrah mu dapat kamu istiqomahkan.
pesan ku kembali,
berhentilah dengan berani meninggalkan masa lalu mu jika kamu ingin menempatkan hati dengan masa yang baru.
berhentilah membuat hati baru terluka karena ketidaktahuannya akan kamu dengan masa lalu mu.
ingatlah, ketika hati baru telah jatuh padamu, rentan sekali itu terluka oleh mu.

Terimakasih telah membuatku bahagia walau sebentar 🙂

Advertisements

Galadriel

Adzan tepat berkumandang menandakan shalat maghrib telah tiba waktunya untuk dilaksanakan. Setelahnya, Galadriel mendengar pujian-pujian dari Gereja dengan syahdu dari kejauhan. Sebuah kedamaian pikirnya, mengetahui bahwa kerukunan masih terjaga dengan baik disini.
Ia duduk sendirian di balkon rumah sakit petang itu, memandangi taman dengan suasana yang mendung.
Terpaku hanya pada satu cahaya di seberang, dari cahaya remang kekuningan jendela empat bingkai, khas Belanda.
Galadriel bergumam, “ya Tuhan, aku rindu pada diri ku” dengan tatapan kosong seraya tetap memandang jendela tua tersebut.
“ya Tuhan, bagaimana bisa setiap bait do’a yang ku panjatkan selalu seperti sebuah cerita? bukan permohonan atau permintaan maaf?”
Galadriel bangkit dari duduk nya dan menuju pada sebuah ruang kosong, yang didalam nya tertata rapi empat buah kursi, dan satu meja bulat kayu berwarna coklat.
Ia duduk di salah satu nya, menghadap sudut ruang, lalu dibuka nya sesuatu yang sedari tadi ada dalam genggaman nya. Sebuah laptop hitam yang biasanya ia kenakan untuk mengerjakan segala pekerjaan kuliah nya.
Ia berdiam diri menatap kosong, lalu jari tangan nya mulai menekan-nekan tombol dan mengetik Notepad pada kolom pencarian.
Setelah itu, jari-jari nya mulai menari-nari diatas keyboard menekan segala sesuatu yang biasanya ia sebut dengan menulis.
Langit sudah berwarna jingga dan gemericik hujan mulai berjatuhan perlahan.
Galadriel tersenyum menatap langit, menandakan ia bahagia atas hujan yang turun. Lalu ia kembali pada layar laptop nya.
Tak ada senyum lagi disana, melainkan hening dan nanar pada mata nya mulai terlihat.
Pada tetesan pertama dibalik kacamata nya, ia menulis cerita tentang diri nya yang lebih kepada berdoa.

“yaTuhan.. mengapa setiap hati yang aku tempatkan dengan tulus akan berakhir sia-sia?
apakah Engkau tahu bagaimana aku harus bangkit dari masa kelam ku lagi? aku takut.
Mengapa Engkau masih membiarkan aku menangis dalam sujud-Mu ketika aku memikirkan mereka?
aku benci diriku yang masih rela menangis untuk seseorang yang bahkan memikirkan aku saja tidak.
Seorang teman pernah berkata pada ku,
“ibaratkan wanita itu adalah angin, kau dan kekasih mu adalah pohon, dan hubungan mu adalah akar nya.
Sekuat apapun angin menerpa pohon terebut, yang berjatuhan hanyalah tangkai-tangkai nya. Pohon dan akar nya tidak. Pohon nya akan tetap berdiri, akar nya tetap ada disana menguatkan.”
Lalu aku berpikir, ada benar nya juga. Namun salah, ternyata pohon tersebut akhirnya tumbang hanya tersisa akar nya, yang tetap menguatkan. Menguatkan cengkeraman nya pada tanah kosong dan tidak akan menumbuhkan pohon apapun lagi.
YaTuhan.. jika kelak aku melihat nya bahagia, maka kuatkan lah aku. Jika kelak aku melihat mereka akan lebih bahagia, maka aku mohon.. sebelum aku melihat hal itu terjadi, segera jauhkan aku dari segala-ketahuan ku tentang mereka.
Aku juga ingin bahagia tanpa bayang-bayang masa yang hampir membunuhku perlahan. Adil bukan?”

Ia berdiam sejenak, dibalik kacamata nya telah banyak tetesan air bejatuhan. Galadriel sesenggukan dan merengkuh tubuhnya.
Lalu ia menoleh pada jendela tua diseberang, ia menghentikan tangisan nya lalu kembali ke layar laptop nya.
Tak butuh waktu lama, senandung efek rumah kaca muncul menemani kesedihan nya.
Pada bait “seperti pelangi setia menunggu hujan reda”, Galadriel bangkit dari duduk nya dan berjalan keluar balkon meninggalkan laptop nya yang masih menyala di sudut ruang. Ditemani hujan dan bau taman yang basah, ia masih mendengar samar-samar lanjutan lagu nya, “aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember, di bulan Desember” dalam hati nya ia mengutuk, “aku membenci bulan Desember, pun bulan Februari”
Hujan mengguyur tubuhnya namun Galadriel tetap berjalan sendirian dan tetap menangis berharap semua itu akan berakhir segera.

***

Mereka sama dengan luka.

“ini mendung atau gelap, sayang?”

sesekali aku membenci ketika mendung datang dan aku ingin bertanya pada mu
karena ingatan ku menuju ia, wanita yang pernah mencintai mu dengan sangat.
yang juga menanamkan benih luka yang setiap hari nya tumbuh. pada ku.

“yasudah, jangan lupa bahagiakan ia. karena ia baik”

barisan kata-kata yang makna nya sungguh baik namun benar-benar berhujung luka.
aku tidak tahu bagaimana seseorang bisa mengatakan hal tersebut
namun mereka lah yang dengan sengaja menancapkan luka.

terlebih, aku tidak tahu akan kamu.
terlepas dari segala kenangan yang kita miliki dulu.
aku tidak tahu akan kamu
atas semua janji dan rencana yang bahkan kamu buat tanpa berniat kau realisasikan.
dan kamu, telah mencoba pada janji dan rencana lain dengan seseorang yang baru.

tidak, kita tentu telah lama mengenal nya. kamu lebih.

Perihal apa?

Kamu memang benar perihal aku yang membuat hidup mu, ketika bersama ku sia-sia.
Kamu juga benar perihal aku yang terlalu memikirkan sesuatu berlebihan.
Namun perihal yang satu ini, kamu tidak pernah mengerti.
Perihal aku, perihal kita.
Perihal kamu yang selalu aku tinggikan, saat kamu selalu berusaha menjatuhkan.

dekat atau jauh?

ternyata betul bahwa sebuah jarak dapat menyelamatkan hubungan dari titik kejenuhan.

tapi terlalu jauh jarak dalam hubungan dapat memperkeruh suasana dalam hubungan itu sendiri.

sejatinya hati tidak mudah untuk dibohongi. mungkin benar jarak memegang kendali nya dengan kuat, namun terlalu jauh suatu jarak selalu menyimpan rindu-rindu yang didekap dalam dingin malam.
takut dalam berjarak, namun takut juga dalam kedekatan.
karena mungkin dalam sedikit jarak yang pernah kita lewati, kamu mampu memanja rindu hingga aku lupa aku berada dimana.
pada saat rindu mulai bertemu kembali, hati malah merasa kamu menjauh.
lucu sekali sebuah jarak-dekat maupun jauh-ia mampu merubah segala yang harusnya baik menjadi buruk ataupun sebaliknya.

Mememori

sebuah kisah lama yang jeda waktu nya hanya sebentar. ia telah menendang kenangan dan angan kami dengan satu pukulan saja
lalu aku menemukan diriku sudah tak lagi berada diantara mereka. entah aku harus bersyukur atau tidak.
siang sudah cukup panas untuk menambah beban mata yang sekerjap terbuka menemukan sebuah pukulan hingga aku tak merasakan apa apa. sepasang mata ini kembali memanas seperti siang, kembali berair seperti hujan di bulan November. ia panas dan juga berair. entah.
terlebih memori yang masih ingin mememori kebahagiaan, kebersamaan, yang entah dirasa akan menjadi kenangan.
bukan aku, tetapi kita. kami.
keluh ku, sudah susah payah aku. seperti cambuk, lupa kah kamu atau kalian tentang busa-busa yang keluar dari mulut kalian akan kita dan kepedulian.
aku rasa masih ingin menjadi bagian, tapi entah bagian mana.

selembar kertas berwarna coklat ini semakin memudar, sadarku.

-Moi

Kita Hanya Butuh Jeda, Bukan Luka

Ada saatnya kita akan dihadapkan pada masa-masa sulit. Kamu atau aku terlalu sibuk, sementara curiga tumbuh dan mulai melemahkan.
Barangkali yang akan meresahkan, pada saat yang sama kita juga butuh waktu untuk bertemu dan saling menjelaskan.
Waktu seolah tidak ingin berpihak kepada kita. Padahal, kita sama-sama tahu bertemu adalah salah satu cara terbaik, sebab begitu banyak kabar yang tidak baik dibawa angin. Namun apa daya, ada hal-hal yang memenjarakan kita.

Pahamilah, setiap orang yang berkasih sayang akan mengalami hal yang sama.
Hanya saja, ada yang melalui dengan baik, ada yang tidak.
Akan ada fase ketika dua orang yang ditimpa masalah, mereka harus terpisah. Harus menunda dan menunggu waktu yang baik untuk bertemu.
Kalau sudah begini, harus dipahami, bahwa kita sedang menunggu waktu untuk mendapatkan solusi. Bukan waktu senggang lantas mencari selingan hati.
Kita harus menyelesaikan dengan baik. Sebab, kita memulai dan menjalaninya dengan awal yang baik
Kita akan kembali melanjutkan dengan segala hal yang pernah kita rencanakan.

Saat dua orang lelah, yang dibutuhkan hanya menikmati jeda. Agar kuat lagi menghadapi banyak rimba.
Begitu pun saat dua orang ditimpa masalah, yang dibutuhkan hanya duduk berdua, menenangkan kepala.
Saling mendengarkan dan bergantian berbicara.
Redakan ego, yakni satu hal; kita sedang mencari titik terang. Bukan mengemukakan emosi untuk melakukan perang.
Jika memang belum waktunya untuk bicara, mari kita menikmati jeda.
Barangkali, saling jauh sejenak bisa kembali menumbuhkan rindu.
Renungkan lagi, bagaimana kerasnya kita saling memperjuangkan dulu.

kita selalu berkesempatan menentukan akhir kisah ini, menjadi hujan, senja, atau pun kenangan.
Berilah jarak dan jeda, jika semua itu bisa mengembalikan perasaan yang dulu kita puja.
Sebab, aku masih ingin dengan mu saja.
Aku tahu, kepala mu bisa lebih batu dari ego ku, tetapi bukan itu yang menjadikan kita saling mengerti.
Tenangkanlah segala resah, tidak usah memaksakan bicara seketika jika kesal rasanya, pelan-pelan saja.
Ingatlah bahwa ada bahagia yang harus kita jaga.
Sebab, setelah kelelahan panjang ini, kita akan saling mengerti, bahwa kita memang diciptakan untuk bersama, bukan berpisah ujungnya.

Boy Chandra – 20/03/2015

Maaf dan Terimakasih, Pablo..

Semua penyesalan akan datang di akhir.
Semua resiko akan di dapat setelah apa yang kita lakukan.
Tapi, dua hal..
Aku tidak pernah menyesal mecintai mu. Dan aku tidak pernah merasa beresiko telah mencintai mu

Sedikit nya, aku mulai membenci kata maaf dan kamu pun. Karena nyatanya pun aku tak sanggup memaknai ‘maaf’ itu sendiri.
Namun apa yang harus aku katakan lagi selain maaf dan terimakasih.

Aku mau memulainya dengan kata maaf. Izinkan aku ya, bo 🙂

Maaf aku tidak bisa memberi lebih dari harta ku.
Maaf aku terlalu jelek untuk mu.
Maaf aku tidak cukup pantas hadir dalam hidup mu.
Maaf aku tidak cukup mengerti kamu.
Maaf aku tidak bisa membuat mu bahagia sampai detik kata putus melayang dan mulai menghantui ku.
Maaf aku tidak mampu menjadi seorang pacar yang layak. Seorang perempuan yang mampu membimbing lelakinya.
Maaf aku selalu membuat kesalahan yang berhujung menghancurkan.
Maaf aku selalu mengatakan ini. Mengatakan maaf.
Maaf sampai detik ini pun, aku masih menyayangi mu.
Maaf sampai detik ini pun, aku masih ingin memiliki mu.
Maaf sampai detik ini pun, aku masih ingin memeluk mu.

Maaf aku masih mememori kenangan-kenangan kita. Dan aku berharap kamu juga..

Maaf aku masih menginginkan ‘kita’

terlalu banyak kata maaf memang membuat mu bosan dan lelah membaca. ya, aku tau..
tapi aku selipkan kata terimakasih, bo 🙂

Setelah beberapa bulan yang aku anggap ini akan menjadi tahun dan selamanya, aku merasa semua hadir indah
dan aku berterimakasih pada Tuhan karena aku mengenal mu..
Setelah apa yang kita lalui bersama. Semuanya indah, bahkan ketahuilah, aku sangat mencintai hubungan kita.

Terimakasih..
Terimakasih sudah mengajari ku bagaimana rasanya jatuh cinta kembali.
Terimakasih sudah mengajari ku untuk bertahan dan berjuang meskipun aku kurang memahaminya, katamu.
Terimakasih sudah mengajari ku untuk kembali membuka hati.
Terimakasih sudah mengajari ku untuk belajar kembali apa itu cinta.
Terimakasih sudah mengajari ku untuk menjadi dewasa.
Terimakasih sudah mengajari ku belajar apa itu hidup.
Terimakasih sudah menyediakan waktu mu untuk membuat ku bahagia, menangis, tertawa, dan semuanya.
Terimakasih sudah mau mencintai ku.
Terimakasih masih menerima ku diatas segala kekurangan ku.
Terimakasih atas apa yang sudah pablo kasih buat mona.
Terimakasih atas semua kenangan yang pablo titipkan buat mona.
Terimakasih berlebih kepada Tuhan, terimakasih sudah ngenalin pablo buat mona.
seseorang yang ngga mona sangka akan sebahagia ini. Terimakasih Tuhan, sudah mengizinkan mona bersama pablo,
meskipun hanya sebentar.
Dan terimakasih Tuhan, Engkau mengajarkan mona kembali bagaimana mencintai. Terimakasih sudah mempertemukan
mona dengan pablo.
Bagi ku, terimakasih ini tidak cukup menyampaikan seluruh apa yang aku ingin katakan.

terlalu banyak drama dalam diri ku, tapi sejak tau pablo, aku sudah mulai suka action dan bunuh-bunuhan.

Mungkin ini pilihan terbaik buat kita meskipun nyatanya tidak untuk ku.
Mungkin aku harus belajar untuk bangun kembali dari pengalaman ditinggalkan.
Mungkin sayang ini belum cukup bisa membuktikan akan aku. Dan aku tidak bisa memberikan segala yang terbaik
dari diri ku untuk kamu.
Dan aku harus belajar lagi untuk bangkit.
Tuhan mengajari ku untuk belajar kembali bagaimana agar tidak membuat resah orang lain. Tuhan baik. Ya, Ia baik.

Sedikit pesan buat pablo..
Pablo ngga akan ngerti gimana rasa sayang ini ada. Pablo ngga akan tau gimana rasa sayang ini hadir.
Dimana pun pablo sekarang, mona bakal ada tetep disini nunggu pablo buat kembali. Karena cinta akan selalu pulang.
Mungkin bahagia nya pablo bukan sama aku dan aku gatau akan sebahagia apa aku nanti ketika ngga sama pablo.
Pablo sudah jadi pacar, sahabat, musuh, temen, papa, listener, announcer buat aku hehe
Terimakasih atas segala waktu yang singkat ini.
Pablo jangan lupa makan, kalo cangkruk gaboleh pulang malem-malem maksimal jam 23:00,
kalo cangkruk juga rokok nya sehari harus 4! em-pat biji, bukan empat puluh sembilan, pablo jangan lupa sholat.
Kalo naik motor harus pake jaket sama maskernya, ngga boleh ngantukan. Kalo naik mobil jangan lupa seat belt nya dipake jangan sampe bunyi alarm nya.
Kalo hujan jangan ditrabas, ngiyup dulu. meskipun hujan nya tis… tis… tis… nanti pablo pusing!
Kuliah nya jangan males, buktiin ke papa kalo pablo bisa. Capslook nya juga jalan teruuus. Amiin.
Maaf suka pinjem baju pablo buat bobok sama buff nya hehe nanti dikembalikan kok. Itu didepan baju, jaket, celana pablo

masih dijemur
Oiya, pablo ngga boleh bau kecut ya kalo di deket orang lain, biar aku aja yang bauin.

Kadang, mencintai pablo dari jauh dan dalam diam sudah cukup buat aku. I love you my young wild boy!

Terimakasih untuk paralayang nya di 5 November 2014, ketika matahari terbit.

1424396128141[1]
I’m writing on my own, for me, for us. I don’t expect he’ll read this post.
cause i knew it he won’t. Please, let me loving you with my own way.
With love,

Hanafunk.

Pukul 04.41

bukan kepada siapa dan untuk siapa. namun aku ini hanya apa.

bukan kepada apa dan bagaimana. namun aku ini hanya mengapa.

pada pukul dini, pikiran ku mulai dingin. melihat kini aku semakin tak mengerti. pada pukul dini, perasaan ku mulai bergeming. menyadari sesuatu yang tak lagi disini.

dan kini. melihat mereka yang ku terka-terka. dan kini, menjumpai rasa diambang batas. selagi angan membawa batas. ia kini semakin bebas. tak seperti aku yang tak akan pantas.

Seperti Senja

“Seperti senja yang tak ingin luput dari pandangan ku. Namun ia akan tetap pergi kapan pun ia ingin pergi”

Kamu ibarat senja.

Kamu akan pergi, kapan pun kamu menginginkan nya. Sedangkan aku, akan selalu tetap tinggal.

Ya, hal pertama yang selalu aku takut kan adalah pergi lalu ditinggalkan. Dan aku akan selalu tetap disini, diam dan melepaskan.

Seperti aku. Seperti masa lalu. Seperti kamu, masa depan ku-yang mungkin akan selalu sulit ku raih dan ku pertahankan-.

Seperti kita. Seperti satu sisi yang mengerti. Seperti hanya aku yang merasa.